Tampilkan postingan dengan label tahi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tahi. Tampilkan semua postingan

Mitos Tahi Lalat dan Artinya

Semua yang bersih itu indah, tapi secarik kertas yang kosong itu ga ada artinya. Begitupun dengan fisik kamu. Ada yang kulitnya bersih malah ditato, ada yang kurus malah fitness biar berotot. Tapi nih ya, tubuh kamu punya mekanisme sendiri untuk memperganteng dan mempercantik dirinya sendiri.

Kenalkan yang namanya tahikebo lalat. Bukan sulap, bukan sihir, tapi di berbagai budaya dan zaman ternyata tahi lalat mempunyai artinya sendiri. Yang bagus-bagus bisa kamu ambil, yang jelek bisa kamu bilang itu tato telor naga. Mari yuk mari kita simak sama-sama mitos tahi lalat berikut ini :


Zaman Yunani Kuno

Orang Yunani kuno percaya bahwa tahi lalat dan tanda lahir dapat memprediksi nasib seseorang. Bahkan, Melampus, juru tulis Raja Ptolemeus I, menulis traktat perkiraan nasib seseorang secara keseluruhan berdasarkan letak tahi lalat. Rupanya, tahi lalat di pipi berarti kekayaan masa depan yang besar. Sementara, mereka yang memiliki tanda lahir di bagian belakang tenggorokan hidupnya akan berakhir dipenggal.

Kekaisaran China

Dalam pengobatan China klasik, ada sebuah tradisi moleomancy, yaitu ramalan berdasarkan tahi lalat dan tanda lahir. Nasib baik atau buruk bisa dilihat dari tanda khusus ditentukan dari sembilan titik di wajah, yang merupakan titik kemakmuran. Termasuk juga ukuran dan warna tanda lahir. Tahi lalat paling mudah dilihat dan dianggap sebagai peringatan atau pengingat nasib dan keberuntungan.

Romawi kuno

Bagi masyarakat romawi kuno, kulit mulus tanpa cacat adalah simbol kecantikan. Tahi lalat, bintik-bintik, dan tanda lahir dianggap sebagai masalah. Karena itu, wanita Romawi berusaha untuk menghapus atau memudarkan menggunakan abu yang terbuat dari siput.

Kalo barusan itu mitos tahi lalat pada zaman yang berbeda, Ane juga punya mitos berdasarkan posisinya. Penasaran ga? Kalo ngga juga gapapa sih, kamu cuma akan kekurangan bahan buat sepik aja. Nih coba cocokin sama punya kamu :

1. Bibir bawah / atas : Banyak rezeki dan banyak yang mencintai.

2. Pipi kanan : Memiliki jiwa sosial yang tinggi, Dermawan.

3. Pipi kiri : Suka royal, banyak godaan

4. Alis sebelah kanan : Memiliki tanggung jawab yang besar.

5. Alis sebelah kiri : Suka mementingkan diri sendiri ( Egois )

6. Dahi kiri : Tahan terhadap ujian, memiliki otak yang cerdas.

7. Dahi kanan : Memiliki pengalaman yang luas.

8. Dagu : Banyak bicara, akan tetapi tidak dapat dipercaya.

Sumber: http://www.nyunyu.com/main-article/d...at-dan-artinya

SOURCE: forum.indowebster.com

Jepang olah tahi manusia jadi makanan


VIVAnews - Mitsuyuki Ikeda, ilmuwan asal Okayama Laboratory yakin bahwa banyak protein bagus di dalam kotoran manusia yang bisa dimanfaatkan. Untuk itu, ia mencari cara untuk mengekstraknya, mencampurnya dengan saus steak, dan berhasil membuat kotoran (tai) itu menjadi makanan.

Orang mungkin bertanya-tanya apa alasannya melakukan hal itu. Tetapi ternyata, alasan utamanya adalah permintaan dari pemerintah Tokyo sendiri.

Sebagai informasi, Tokyo saat ini kewalahan dengan lumpur selokan bawah tanah, dan satu-satunya cara untuk mengatasinya selain dengan membuang ke laut adalah dengan memakan ‘kotoran-kotoran’ tersebut.

Saat diteliti, Ikeda mendapati bahwa lumpur itu penuh dengan protein karena banyaknya konten bakteria di sana. Setelah dikombinasikan dengan peningkat reaksi dan menempatkannya di mesin ajaib yang disebut ‘exploder’, akhirnya steak buatan berhasil dibuat.

Lumpur kotoran itu mengandung 63 persen protein, 25 persen karbohidrat, 3 persen vitamin yang larut dalam lemak, serta 9 persen mineral. Adapun steak buatan yang dihasilkan pun warnanya juga merah, jadi konsumen tidak akan mengetahui bahwa yang akan ia makan merupakan tinja olahan.

“Dari uji pertama, orang-orang yang sudah mencobanya menyebutkan, rasanya seperti daging sapi,” sebut Ikeda, seperti dikutip dari Digital Trends.

Menurut Ikeda dan rekan-rekannya, cara ini merupakan solusi sempurna untuk mengurangi jumlah limbah dan emisi dari perut. Namun sayangnya, masih ada kekurangan dari solusi yang ditawarkan Ikeda. Biaya untuk memproduksi ‘Daging’ buatan itu 10 sampai 20 kali lebih mahal dibandingkan dengan harga daging sapi sungguhan.

Sumber

SOURCE: forum.indowebster.com