Indonesia tidak akan Minta Maaf ke Singapura
Jakarta: Pemerintah menyatakan tidak mengirim permintaan maaf formal kepada pemerintah Singapura meski asap akibat kebakaran hutan di Riau mengotori udara negara di selatan Semenanjung Malaka tersebut.
Meski begitu, Indonesia bersama Singapura sudah membuka forum komunikasi untuk bertukar informasi mengenai penanganan kebakaran hutan tersebut.
"Tidak ada permintaan maaf. Saya kira dari pihak Singapura juga mengetahui bahwa itu selama bertahun-tahun kondisi sudah jauh lebih baik dan upaya-upaya pencegahan dari Indonesia telah membuahkan hasil. Namun kali ini atas berbagai alasan situasi dan kondisi kita menyaksikan apa yang kita sedang saksikan," kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa usai menghadiri rapat koordinasi persiapan penyelenggaraan APEC di Kantor Menko Perekonomian, Jumat (21/6).
Saat ini, forum komunikasi antar-negara sudah dibuka agar setiap informasi penanganan bisa disampaikan. Menteri lingkungan hidup kedua negara juga akan bertemu untuk membahas upaya pemadaman yang lebih baik.
"Saya kira pemerintah Singapura mengetahui lebih dari siapa pun juga, kita yang lebih ingin masalah ini diatasi. Kan terjadinya di negara kita sendiri. Jadi semangatnya kebersamaan dan kemitraan," lanjut Marty.
Tak hanya dengan Singapura, pemerintah juga membuka pembicaraan dengan Malaysia terkait hal yang sama. Sebab, kondisi di kawasan udara di Johor yang dekat dengan Singapura juga penuh asap kebakaran hutan. Marty mengaku, Duta Besar Indonesia di Kuala Lumpur terus memantau situasi di perbatasan Malaysia-Singapura tersebut.
Marty juga menegaskan, permasalahan kebakaran hutan dan asap adalah permasalahan lintas batas negara. Seperti juga masalah semacam limbah minyak di pantai Timor Barat hingga penyebaran virus SARS, masalah kebakaran hutan perlu penanganan bersama.
"Ini sesuatu yang menjadi realitas internasional saat ini, suatu kejadian yang membawa dampak lintas batas. Yang perlu adalah kita bekerja keras mengatasi inti permasalahan dan kita komunikasi ke internasional langkah-langkah tersebut agar mereka pahami, kita sudah lakukan apa yang harus kita lakukan," tutupnya. (Gayatri)
sumber
giaman mntr agan agan kaskuser semua...
Inilah Perusahaan Malaysia Pembakar Lahan di Riau dan "Ekspor" Asap ke Negaranya
PEKANBARU, GORIAU.COM - Peristiwa kebakaran yang melanda sejumlah kawasan di daratan Provinsi Riau dikabarkan sebagian berada di areal perkebunan dan hutan tanam industri milik perusahaan modal asing asal Malaysia.
Dugaana itu mencuat seiring penerbitan data hasil pantauan satelit cuaca dan pendeteksi panas bumi (NOAA) pada Selasa (18/6) yang berhasil merekam keberadaan sebanyak 148 titik panas di Riau. Sebagian diantaranya berada di areal perkebunan dan HTI milik perusahaan Malaysia.
Diantaranya yakni PT Langgam Inti Hibrida. Perusahaan tersebut merupakan perusahaan milik pengusaha Malaysia, dimana pada Selasa (18/6), terdapat beberapa titik kebakaran lahan di arealnya yang berlokasi di Desa Sering, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan.
Kemudian, demikian Dishut, NOAA juga mendeteksi beberapa titik kebakaran lahan di kawasan perkebunan milik PT Bumi Reksa Nusa Sejati yang juga milik pengusaha Malaysia. Menurut data tersebut, sejumlah titik panas itu berda di dua lokasi areal perkebunan PT BUmi Reksa Nusa Sejati, yakni di sekitar Desa Simpang Kateman, Kecamatan Pelagiran, dan satu lagi di sekitar Desa Bente, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir.
Titik panas menurut data tersebut juga berada di kawasan perkebunan milik perusahaan Malaysia lainnya, seperti PT Tunggal Mitra Plantation, PT Udaya Loh Dinawi, PT Abdi Plantation, PT Jati Jaya Perkasa, PT Multi Gambut Industry, PT Bumi Reksa Nusa Sejati, dan PT Mustika Agro Lestari.
Kemudian kebakaran juga terjadi di kawasan hutan tanam industri milik PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) yang sebagian sahamnya juga dimiliki oleh pihak asing.
Menurut informasi pejabat pemerintah setempat, kebakaran di sekitar area industri milik perusahaan-perusahaan asing tersebut memang sering terjadi saat kemarau. Tak pelak, perusahaan itu kemudian 'meng-ekspor' asap sisa kebakaran lahan itu ke negera asalnya.
Masih kah Malaysia dan Singapura 'berkoar-koar' menyerahkan semua penyelesaian masalah kebakaran hutan atau lahan penyebab kemunculan kabut asap di Riau?(fzr)
Sumber: http://www.goriau.com/berita/dunia/i...negaranya.html
Asap Singapura Ulah Perusahaan Malaysia dan Singapura
BN--Peristiwa: SINGAPURA kini sedang dirundung kabut asap. Pemerintah Singapura dan rakyat negeri itu menuding telah terjadi pembakaran lahan hutan di daratan Riau, Indonesia. Indonesia memang selalu menjadi kambing hitam jika terjadi kebakaran dan asap.
Celakanya, kebakaran itu akibat dari ulah para pengusaha Malaysia dan Singapura yang menggarap perkebunan di Indonesia. Di negeri orang mereka semena-mena, tidak mentaati undang-undang atau peraturan tentang pengelolaan hutan dan perkebunan.
"Indikasi itu muncul setelah satelit pemantau cuaca dan pendeteksi panas bumi (NOAA) pada Selasa (18/6) merekam keberadaan sebanyak 148 titik panas di Riau," kata Kasi Penanggulangan Kebakaran Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Riau Rahidi di Pekanbaru, Kamis (20/6).
Menurut data Satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) yang diterbitkan pihak Dinas Kehutanan Provinsi Riau, sebagian titik panas yang diduga sebagai peristiwa kebakaran lahan tersebut berada di kawasan hutan tanaman industri (HTI) dan perkebunan milik pemodal asing, di antaranya yakni PT Langgam Inti Hibrida.
Perusahaan tersebut merupakan milik pengusaha Malaysia. Pada Selasa di areal yang berlokasi di Desa Sering, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, itu terdapat beberapa titik kebakaran.
Satelit NOAA juga mendeteksi beberapa titik kebakaran lahan di perkebunan milik PT Bumi Reksa Nusa Sejati yang juga milik pengusaha Malaysia. Menurut data tersebut, sejumlah titik panas itu berda di dua lokasi areal perkebunan PT Bumi Reksa Nusa Sejati, yakni di sekitar Desa Simpang Kateman, Kecamatan Pelagiran, dan satu lagi di sekitar Desa Bente, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir.
Titik panas menurut data tersebut juga berada di kawasan perkebunan milik perusahaan Malaysia lainnya, seperti PT Tunggal Mitra Plantation, PT Udaya Loh Dinawi, PT Abdi Plantation, PT Jati Jaya Perkasa, PT Multi Gambut Industry, PT Bumi Reksa Nusa Sejati, dan PT Mustika Agro Lestari.
Kemudian kebakaran juga terjadi di kawasan HTI milik PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) yang sebagian sahamnya juga dimiliki oleh pihak asing.
"Kebakaran di sekitar area industri milik perusahaan-perusahaan tersebut memang sering terjadi. Khususnya untuk pantauan NOAA, di area sejumlah perusahaan itu selalu terdeteksi titik panas ketika kemarau," kata Rahidi. (mtv/*)
Sumber: http://www.borneonews.co.id/head/377...-dan-singapura
update berita
Quote:
190 Titik Api di Riau Berada di Lahan Perusahaan yang Berbasis di Singapura
Quote: Jakarta - Pemerintah mengungkap peta titik api di Riau yang memicu kabut asap hingga ke negara tetangga. Hutan tanaman industri (HTI) milik dua perusahaan yang berbasis di Singapura memiliki titik api terbanyak. Dengan demikian pihak Singapura juga harus bertanggung jawab atas kebakaran hutan di Riau.
"Saya kira iya (bertanggung jawab), karena perusahaan ini punya kantor pusat di sana (Singapura). Jadi saya kira perlu diselesaikan dengan baik," kata Kepala Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto menjawab pertanyaan wartawan, di kantornya, Jalan Veteran 3, Jakarta Pusat, Jumat (21/6/2013).
Perusahaan yang dimaksud adalah APP dan APRIL yang bergerak di industri pulp and paper. Dua perusahaan tersebut memiliki konsesi HTI di Riau, yang diduga menjadi sumber bencana kebakaran hutan dan asap.
"Anda bisa melihat titik hitam (titik api) ini ada di wilayah mereka, dan dua perusahaan ini kantor pusatnya di Singapura. Yang merah ini konsesinya APP dan yang kuning APRIL," ujar Kuntoro sambil menunjukkan sebuah peta konsesi.
Peta yang yang ditunjukkan Kuntoro menggambarkan Provinsi Riau berwarna merah muda. Di wilayah berwarna merah muda tersebut ada pola-pola berwarna merah dan kuning. Warna merah mengacu pada APP, dan kuning menunjukkan konsesi HTI milik APRIL.
Di antara warna merah dan kuning tersebut ada titik-titik hitam yang disebut titik api. Peta ini menunjukkan APP memiliki 112 titik api dan APRIL memiliki 78 titik api, jadi total titik api dari dua perusahaan yang berkantor pusat di Singapura ini mencapai 190 titik.
"Saya ingin menyampaikan, kejadian di sini tapi pelakunya perusahaan-perusahaan besar," ujar Kuntoro.
Kuntoro menyatakan perlunya pembenahan terkait temuan ini, termasuk persoalan administrasi yang harus disinkronkan dengan informasi lainnya. Ia menilai temuan ini menunjukkan penyelesaian yang tidak mudah.
"Secara sistematik, saya bisa melihat ini adalah ulah perusahaan-perusahaan ini, dan saya minta tidak menyalahkan rakyat kecil," tutup Kuntoro.
SUMBER
Quote: Hujan buatan akan digunakan untuk atasi asap Riau
Quote: Pangkalan Bun (ANTARA News) - Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah akan berusaha mengatasi masalah asap akibat kebakaran hutan di Riau dengan hujan buatan.
"Tahap pertama kita akan pakai hujan buatan, mungkin dalam pekan ini sudah bisa kita laksanakan," katanya setelah melepasliarkan 10 orangutan di kawasan hutan Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Jumat.
Ia menjelaskan pula bahwa pejabat kementerian dan lembaga pemerintah terkait sudah membentuk tim untuk mengatasi kabut asap yang menyelimuti Riau dan merambat sampai ke negara tetangga, Singapura.
"Ini kita anggap sudah darurat, oleh karena itu Pemda, kepolisian, dan kementerian lembaga lain akan bersama-sama berusaha menghentikan kebakaran di Riau," katanya.
"Kita akan segera all out mengatasi yang terjadi di Riau. Mudah-mudahan dalam 10 hari ini (sudah teratasi)," katanya.
Namun, ia melanjutkan, jika pembakaran hutan dan lahan masih dilakukan, masalah itu akan sangat sulit di atasi. "Apalagi kalau praktik itu sampai menyebabkan lahan gambut ikut terbakar," katanya.
Mengenai protes yang dilayangkan Singapura soal kebakaran hutan dan lahan, ia mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang wajar.
"Tapi ingat, sampaikan dengan cara tepat, pas dan baik. Jangan seperti menyerang, karena kita juga tidak ingin kebakaran ini terjadi. Ini musibah, kita juga tidak ingin negara kita ada asapnya," kata dia.
SUMBER
WAH!! jd HT rupanya
makasih buat min dan mod
Quote:bagi yg sudah iso sudi kiranya kasih ane
SOURCE: www.kaskus.co.id
0 komeng:
Posting Komentar