Tampilkan postingan dengan label Menuju. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menuju. Tampilkan semua postingan

Menuju Indonesia Genius

Quote:
- Salam Super Indonesia -


semoga dengan thread ini kita bisa menjadi seorang yang genius
Get ready !!


Quote:Quote:Menuju Indonesia Genius


Prof. Yohanes Surya Ph.D

Apakah anak-anak Indonesia
setara kecerdasannya dengan anak-anak bangsa-bangsa maju di dunia? Kalau anda melihat deretan prestasi Prof. Yohanes Surya dan anak-anak asuhannya, jawabannya adalah, tidak. Samasekali tidak.

Anak-anak Indonesia lebih unggul, lebih cerdas, lebih genius dibanding anak-anak dari bangsa-bangsa lainnya, termasuk dari bangsa-bangsa maju!

Di bawah bimbingannya, anak-anak Indonesia berkali-kali merebut gelar juara berbagai olimpiade fisika dan sains dunia yang sangat bergengsi. Mereka bahkan mengalahkan anak-anak dari China, Amerika, Jerman, Inggris, India, Korea Selatan, Australia, dan Israel. Bangsa-bangsa itu yang masih mengira Indonesia adalah bangsa yang terbelakang akan terkejut karena Indonesia tidak hanya setara dengan mereka, tapi bahkan telah melampaui mereka.

Prof Yohanes Surya dan para anak didiknya yang istimewa, cerdas dan pantang menyerah, benar-benar membuat harum nama Indonesia di dunia.

Tiga tahun yang lalu, 2006, Republik Indonesia berhasil secara spektakuler merebut juara dunia Olimpiade Fisika Internasional ke 37 di Singapura, ”37th International Physics Olympiad”. Inilah Olimpiade Fisika terbesar sepanjang sejarah, diikuti para siswa paling cerdas dari 85 negara, dan kita berhasil menjuarainya!

Kita berhasil merebut total 4 Emas, dan 1 Perak, bahkan Jepang saja hanya dapat 3 Perunggu! Ini membuktikan bahwa anak-anak Indonesia tidak sejajar dengan anak-anak cerdas lain di dunia, kita adalah juara, pemenang, nomor 1, lebih hebat dari semua lainnya.

Dan baru-baru ini, April 2009, Indonesia berhasil lagi menjadi Juara Umum di International Conference of Young Scientists (ICYS) di Polandia, mengalahkan pelajar dari negara-negara maju seperti Jerman, Belanda, Amerika, dan Rusia! Total 6 Emas direbut anak-anak Indonesia dari berbagai bidang ilmu, sementara peserta-peserta dari negara maju hanya mampu dapat paling banyak 3 emas.



Tim IPhO 37, 2006, Singapura



Quote:Quote:Di Singapura 2006, seorang anak Indonesia asuhan Yohanes Surya berhasil menjadi ”The Absolute Winner”, juara dunia IPhO, yang terbaik mengalahkan 386 anak-anak paling cerdas di negaranya masing-masing. Saat itu, tidak ada yang menyangka Indonesia bisa mendapat medali apapun.

Tapi bukan hanya mendapat medali, anak-anak Indonesia justru mendominasi olimpiade sains bergengsi itu, dan merebut emas paling banyak. Benar-benar surprise yang spektakuler. Sang pemenang besar itu adalah Jonathan Mailoa, anak genius yang sekarang telah belajar di MIT, Massachusetts Institute of Technology.

Dan tidak itu saja. Yang juga mengejutkan adalah peserta termuda genius yang berhasil merebut medali perak. Dia masih kecil, baru SMP, dan kemenangannya membuat seluruh penonton dan perwakilan dari seluruh dunia tertegun dan takjub. Nama anak itu adalah Muhammad Firmansyah Kasim. Para wakil peserta terheran-heran, bagaimana anak sekecil ini bisa memecahkan persoalan fisika yang begitu kompleks, setara S-2 dan bahkan menjadi salahsatu juara? Firman memang bukan anak kecil biasa.

Tahn 2007, Firman kembali mencapai prestasi yang bahkan lebih spektakuler. Ia berhasil merebut emas di kejuaraan dunia “8th Asian Physics Olympiad (APhO)” di, Shanghai, China. Mengalahkan anak-anak terbaik China, di China, adalah sebuah prestasi yang heroik.
Saat itu dia masih kelas 1 SMA (SMA Athirah Makasar), sementara pesaing-pesaingnya, anak-anak terbaik dari seluruh dunia, terutama dari China (yang berpenduduk 1,3 milyar), kebanyakan sudah kelas tiga. Dari 5 anak yang berhasil merebut emas, 4 dari China, dan hanya satu yang dari luar China, yaitu dari Indonesia, Muhammad Firmansyah Kasim, dan dia pun bahkan adalah peserta paling muda.

Banyak juga anak-anak genius Indonesia justru datang dari daerah yang seringkali kita anggap sebagai daerah tertinggal, Papua. Ternyata dalam melahirkan manusia-manusia genius, mereka samasekali tidak tertinggal. Bahkan disana banyak anak-anak yang kecerdasannya tidak akan tertandingi oleh kebanyakan anak-anak paling cerdas di daerah-daerah lainnya.

Anak-anak genius itu adalah George Saa, Anike Bowaire, Andrey Awoitauw, Rudolf Surya Bonay, Jane Ansanay, Zacharias Viktor Kareth, dan masih banyak lainnya.


Quote:Brilliant Minds, dari Papua

Quote:George Saa, adalah pemenang “First Step to Nobel Prize in Physics” 2004, dan hanya anak-anak paling cerdas di seluruh dunia, para genius muda calon-calon peraih Nobel yang mampu meraihnya.

Hasil penelitiannya yang berjudul “Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor” mengalahkan ratusan karya terbaik yang dikirim peserta-peserta dari 73 negara di dunia. Setiap karya yang masuk akan dinilai 30 ahli-ahli fisika dari 25 negara. Dan juri memutuskan pemenangnya adalah George Saa, dari Indonesia.

Hebatnya, George (Oge) bisa mempunyai pemikiran yang sejauh itu dari Papua. Kita tahu disana fasilitasnya, buku-buku, alat-alat laboratorium, apalagi internet, semua begitu terbatas. Bahkan Oge kadang juga terpaksa tidak bersekolah karena tak punya ongkos, atau harus membantu ayahnya di ladang. Sesuatu yang tentu saja akan membuatnya menangis berjam-jam. Belum lagi buku yang seringkali tidak bisa terbeli.

Ada satu hal yang heroik yang bisa kita pelajari dari sini, bahkan oleh tokoh-tokoh besar dan pejabat di Jakarta. Kalau kemauan kita cukup kuat, tidak akan ada lagi yang tidak mungkin. Tidak akan ada apapun yang bisa menghalangi seseorang dengan kemauan yang cukup besar.

Dan uang, adalah masalah omong kosong. Kalau anda membaca buku di perpustakaan, gratis tanpa biaya, dan anda membacanya seperti orang gila dari pagi sampai malam, tidak akan ada yang bisa mengalahkan anda, bahkan di seluruh dunia.


"Uang bukan segala-galanya untuk maju.
Selalu ada jalan untuk menimba ilmu."
George Saa


Dan George beruntung karena akhirnya dia mendapat bimbingan dari seorang profesor terbaik di Indonesia, Prof. Yohanes Surya. Dengan bimbingan yang unggul, terbukti setiap anak Indonesia, semuanya, bisa jadi yang terunggul.

Di tahun 2005, gadis cilik Anike Bowaire dari SMU Negeri 1 Serui Papua gantian meraih “The First Step to Nobel Prize in Physics” di Warsawa, Polandia. Makalahnya yang berjudul berjudul “Chaos in an Accelerated Rotating Horizontal Spring” dianggap sangat kreatif dan original.





V
V
V
V
V

Joki Skripsi, "Jalan" Pintas Menuju Wisuda



Quote:Skripsi merupakan perjuangan terakhir dan terberat mahasiswa untuk meraih gelar sarjana. Tidak mengherankan, kepuasan tertinggi yang dirasakan mahasiswa adalah ketika akhirnya mampu menyelesaikan skripsi dan maju sidang.

Namun, tidak semua mahasiswa pantang menyerah dan rela jatuh bangun untuk menyelesaikan skripsi. Adapula mahasiswa yang mengambil jalan pintas dengan
memanfaatkan jasa pembuat skripsi.

Salah satu penyedia jasa pembuatan skripsi yang tidak mau disebutkan namanya mengaku telah menekuni bidang ini sejak 2007. Dia mengungkap, penyediaan jasa ini bermula dari seorang mahasiswa yang tengah mengerjakan skripsi di rental miliknya di kawasan Jakarta Selatan. Mahasiswa tersebut mengeluh karena mengalami kesulitan dalam mengerjakan skripsi tersebut dan meminta bantuan kepadanya.

"Saya bingung, tapi saya coba pelajari. Setelah saya pelajari, saya pun membantu anak itu untuk menyelesaikan skripsinya," ujar penyedia jasa tersebut kepada Okezone belum lama ini.

Kemudian, dia pun sering diminta tolong untuk mengerjakan skripsi. Namun, dia menyebut, tidak pernah bermaksud untuk mengomersialkan "bantuannya" tersebut. "Awalnya cuma untuk membantu karena saya kasihan. Tapi karena saya butuh uang untuk hidup, ya, dilanjutkan hingga sekarang," paparnya.

Kliennya berasal dari berbagai kampus di Jakarta baik negeri maupun swasta. Bahkan tidak hanya mahasiswa S-1 dan S-2, ada dosen yang pernah menjadi kliennya. "Ada juga dosen yang ingin bikin thesis atau disertasi untuk S-2 atau S-3-nya," tuturnya.

Dia menyatakan, telah menerima permintaan pembuatan skripsi dari berbagai jurusan. Ada jurusan Ekonomi, Manajemen, dan Komunikasi. Namun, dia mengaku lebih memilih mengerjakan skripsi mahasiswa yang menggunakan metode penelitian kualitatif maupun kuantitatif.

"Kalau kuantitatif tidak terlalu ribet. Dua-tiga hari juga selesai. Tapi kalau kualitatif tidak bisa diburu-buru. Sementara mahasiswa kan suka dadakan mau ketemu dosen untuk konsultasi. Pokoknya kalau memang lagi enggak ribet dan banyak kerjaan, ya saya mau saja terima yang kualitatif,"


Sumber

Quote:Tarif Joki Skripsi, Mulai Rp2 Juta dan "Seikhlasnya"

Memanfaatkan jasa orang lain untuk membuatkan skripsi tentu ada harga yang harus dibayar. Bayangkan berapa rupiah yang harus dikeluarkan mahasiswa untuk menyelesaikan sebuah skripsi oleh penyedia jasa tersebut?

Berdasarkan pentauan Okezone, seorang penyedia jasa pembuatan skripsi di daerah Jakarta Selatan mengaku, tidak pernah mematok harga ketika menerima tawaran dari para mahasiswa untuk membuat skripsi. "Saya tidak pernah menetapkan berapa tarifnya.

Seikhlasnya saja. Macam-macam pokoknya," ujar penyedia jasa yang enggan disebutkan namanya kepada Okezone belum lama ini.

Karena tidak pernah menetapkan tarif tertentu, maka bayaran yang diterimanya pun beragam. Ada yang membayar hingga jutaan rupiah, bahkan ada pula yang tidak membayar.

"Pernah ada yang ngasih Rp2 juta. Tapi pernah apes juga enggak dibayar. Dan kebanyakan yang tidak bayar itu perempuan," paparnya.

Dia menyebut, tidak pernah marah ataupun memaksa mahasiswa untuk membayar skripsi yang telah dibuatnya. Menurutnya, jika terpaksa menagih mereka, berarti dia dalam keadaan butuh uang. "Bilangnya nanti-nanti kalau punya uang. Saya tidak memaksa karena enggak tega. Lagipula saya merasa bukan saya yang seharusnya mengemis minta bayaran. Tapi, ada juga sih mahasiswa yang akhirnya membayar setelah satu tahun," tutur pria berusia sekira 30 tahun ini.

Untuk komunikasi mengenai pembayaran maupun perkembangan skripsi, dia menyatakan menggunakan media seperti pesan singkat (SMS), telepon, jejaring sosial yakni Facebook, maupun datang langsung. Pada kesempatan itu, dia juga menunjukkan hasil percakapan dengan seorang mahasiswi yang meminta dibuatkan skripsi dan berjanji untuk membayarnya.

"Ada yang sudah minta nomor rekening tapi uangnya tidak pernah dikirim sampai sekarang. Ada juga yang sudah lulus dan memasang foto wisuda (di Facebook) ketika saya message tentang pembayaran, tahu-tahu Facebooknya sudah tidak aktif lagi," katanya


Sumber

Ane sudah nggak bisa bilang apa-apa lagi tentang hal ini

Sudah saatnya kegiatan ini dihentikan karena dapat merugikan pihak mahasiswa yang menyewa joki dan joki skripsi itu sendiri.



Tri ane yang lain:
Cara Ampuh Cari Tambahan Uang Di Internet